TRANSKRIPSI EUKARIOTIK ASYIIIKKK...............
Transkripsi
adalah proses pembentukan RNAbaik mRNA, tRNA, maupun rRNA dengan menggunakan
cetakan DNA. Proses penyalinan inti ini, dilakukan oleh RNA polymerase.
Pada
sel prokariot, pembentukan beberapa jenis RNA dilakukan satu jenis enzim RNA
polymerase.Sedangkan pada sel eukariot, setiap jenis RNA disintesis oleh satu
jenis RNA polymerase.
·
Komponen
Yang Terlibat Dalam Transkripsi Pada Eukariot
1.
DNA Cetakan (DNA Templet)
2.
Enzim RNA Polymerase I, II, dan III
3.
Faktor transkripsiumum dan khusus(TFTFIIB,D,E,F,H)
4. Promoter : TATA box (TATAAAA)
·
Mekanisme
Transkripsi Pada Eukariot
Mekanisme transkripsi pada eukariot pada
dasarnya menyerupai mekanisme pada prokariot.Namun, begitu banyaknya
polipeptida yang berkaitan dengan mesin transkripsi pada eukariot menjadikan
mekanisme tersebut jauh lebih kompleks daripada mekanisme pada prokariot.
Secara
umum mekanisme transkripsi dimulai dari inisiasi, elongasi dan terminasi.
Tetapi pada eukariot terdapat tiga gen kelas yang berperan dalam proses
transkripsi, karena itu transkripsi harus dilakukan pada masing-masing gen
kelas tersebut.
·
Pembentukan
kompleks pra-inisiasi transkripsi pada eukariot
Transkripsi
gen kelas II dilakukan oleh RNA polimerase II yang dibantu oleh beberapa faktor
transkripsi umum.
Penyusunan
kompleks faktor transkripsi umum dan RNA polimerase II pada daerah promotor
membentuk kompleks pra inisiasi yang akan segera mengawali transkripsi jika ada
nukleotida. Ikatan semacam ini membuat daerah promotor menjadi terbuka sehingga
RNA polimerase II dapat membaca urutan DNA pada cetakan.
Faktor transkripsi umum yang berperan dalam
mengarahkan RNA polimerase II kepromotor adalah TFIIA, TFIIB, TFIID,TFIIE,
TFIIF, TFIIH dan TFIIJ.
Faktor-faktor
transkripsi tersebut akan menempel ke daerah promotor secara beratahap sebelum
akhirnya terbentuk kompleks pra inisiasi.
Penempelan faktor transkripsi tersebut terjadi
dengan urutan:
1.
Pertama-tama TFIID menempel pada bagian
kotak TATA pada promotor, yang dibantu oleh faktor TFIIA sehingga membentuk
kompleks DA.
2.
Kemudian diikuti oleh penempelan TFIIB,
3.
TFIIF selanjutnya menempel diikuti oleh
penempelan RNA polimerase II,
4.
Akhirnya faktor TFIIE akan menempel
diikuti oleh TFIIH dan TFIIJ.
Kompleks pra inisiasi yang
terbentuk disebut kompleks DABPolFEH.
Setelah terbentuk kompleks pra
inisiasi RNA polimerase II siap untuk melakukan proses transkripsi jika ada
nukleotida.
Faktor
transkripsi yang penting untuk mengawali inisiasi proses transkripsi adalah
TBP, TFIIB, TFIIF, dan RNA polimerase II tanpa adanya TFIIE dan TFIIH,
sebenarnya sudah dapat terjadi transkripsi namun tidak sempurna.
Pembentukan
transkripsi yang tidak sempurna tersebut menandakan telah terbentuknya kompleks
inisisasi termasuk terjadinya pembukaan DNA secara lokal dan pembentukan ikatan
pospodiester pertama. Dalam hal ini faktor TFIIE dan TFIIH tidak diperlukan
dalam proses inisiasi melainkan diperlukan dalam proses pelepasan dari promotor
yang menandai dimulainya transkripsi (pemanjangan transkip) secara aktif.
Pelepasan
dari promotot tersebut dikatalisis oleh aktifitas DNA helikase yang dimiliki
oleh TFIIH sehingga menyebabkan terbukanya DNA pada daerah promotor. Hal ini
dilakukan dengan cara memuntir DNA di daerah hilir dari bagian yang berikatan
dengan faktor transkripsi yang lain sehingga terbentuk gelembung transkripsi.
Pembentukan
gelembung transkripsi memunkinkan RNA polimerase untuk memulai transkripsi dan
bergerak dari hilir sepanjang 10-12 nukleotida. Pergerakan RNA polimerase
tersebut dibantu oleh aktifitas TFIIH yang menyebabkan pemanjangan gelembung
transkripsi.
Faktor
TFIIH mempunyai banyak peranan salah satunya adalah proses fosforilasi RNA
polimerase II menjadi bentuk IIO. TFIIH diketahui mempunyai aktifitas kinase
CTD. Bentuk RNA polimerase IIO inilah yang selanjutnya melakukan proses
pemanjangan transkripsi. Fosforilasi terjadi pada asam-asam amino pada bagian
CTD yang ada pada subunit RNA polimerase II yang paling besar.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses
fosforilasi RNA polimerase II menjadi inisiasi dan selanjutnya terjadi
pemanjangan transkripsi. fosforilasi pada RNA polimerase II menyebabkan
terjadinya komfirmasi kompleks inisiasi menjadi bentuk yang siap untuk
melakukan pemanjangan transkripsi. Pemanjangan transkripsi tersebut dapat
terjadi karena fosforilasi RNA polimerase II menyebabkan ikatan antara CTD dan
TBP menjadi lemah. Dengan adanya nukleotida maka kompleks pemanjangan
(elongation kompleks) dapat meneruskan pemanjangan transkrispi (RNA).
Proses pemanjangan transkripsi akan berjalan
sampai RNA polimerase II mencapai daerah terminator. Terminasi transkripsi
dapat terjadi karena adanya aktifitas fosfatase yang spesifik untuk CTD
sehingga mengembalikan RNA polimerase II menjadi bentuk yang tidak mengalami
fosoforilasi.
Dalam
keadaan tidak mengalami fosforilasi RNA polimerase II dapat digunakan lagi
untuk proses transkripsi berikutnya.
Transkripsi gen klas III
Normal
Pembentukan
Kompleks pra-inisiasi gen kelas III
Transkripsi gen kelas III (gen tRNA dan 5S
rRNA) dilakukan oleh RNA polimerase III dibantu oleh sekelompok protein yang
dikenal sebagai faktor transkripsi TFIII yang meliputi; TFIIIA, TFIIIB, dan
TFIIIC serta protein TBP.
Mekanisme transkripsi gen kelas III
pertama-tama, faktor TFIIIC menempel pada kotak A dan kotak B yang ada pada promotor
internal. Penempelan TFIIIC tersebut mendorong penempelan TFIIIB dan TBP pada
daerah sebelah hulu dari titik awal replikasi. Selanjutnya, RNA polimerase III
menempel pada daerah awal transkripsi dan siap memulai proses transkripsi.
Pada
saat transkripsi dimulai RNA polimerase III menyebabkan TFIIIC terlepas dari
ikatannya dengan kotak A dan kotak B pada daerah promotor internal, sementara
TFIIIB tetap berada ditempatnya untuk memulai rangkaian proses transkripsi
berikutnya. Secara invitro kompleks ikatan TFIIIA, TFIIIB, TFIIIC, dan RNA
polimerase III tersebut dapat mendukung proses transkripsi sampai kurang lebih
40 kali. Selama rangkaian proses tersebut, RNA polimerase III akan berdisosiasi
dan berasosiasi kembali ke dalam kompleks protein setiap kali terjadi proses
transkripsi.
Sejauh
ini diketahui bahwa terminasi transkripsi gen kelas III terjadi pada suatu
daerah tertentu dan tidak melibatkan protein khusus.
RNA Pol III terdapat di dalam nukleoplasma dan
sekurang-kurangnya terdiri atas 16 subunit yang berbeda.Enzim ini menyintesis
prekursor tRNA, 5S rRNA, serta berbagai snRNA dan RNA sitosolik. Transkrip
pertama yang dihasilkan dari gen-gen tRNA merupakan molekul prekursor yang akan
diproses menjadi RNA matang. Daerah kontrol transkripsi gen-gen tRNA terletak
di sebelah hilir tapak inisiasi transkripsi.
Ada dua urutan yang sangat konservatif di
dalam gen tRNA, yaitu
kotak
A (5’- TGGCNNAGTGG – 3’) dan kotak B (5’- GGTTCGANNCC – 3’).
Kedua
urutan ini juga menyandi urutan penting di dalam tRNA sendiri, yang disebut
dengan kala D (D-loop) dan kala TΨC.Hal ini berarti bahwa urutan yang sangat
konservatif di dalam tRNA juga merupakan urutan promoter yang sangat
konservatif.
Dua
faktor pengikatan DNA yang kompleks telah diketahui memegang peranan penting
dalam inisiasi transkripsi tRNA oleh RNA Pol III TFIIIC mengikat baik kotak A
maupun kotak B di dalam promoter tRNA. Sementara itu, TFIIIB mengikat daerah
sejauh 50 pb ke arah hulu dari kotak A. TFIIIB terdiri atas tiga subunit, yang
salah satu di antaranya adalah TBP, suatu faktor inisiasi umum yang diperlukan
oleh ketiga RNA polimerase. Subunit yang kedua dan ketiga masing-masing
dinamakan BRF dan B’’.Faktor TFIIIB tidak memiliki spesifisitas urutan sehingga
tempat pengikatannya bergantung kepada posisi pengikatan TFIIIC pada DNA.TFIIIB
memungkinkan RNA Pol III untuk melakukan inisiasi transkripsi.Begitu TFIIIB
terikat, TFIIIC dapat dikeluarkan tanpa mempengaruhi transkripsi.Oleh karena
itu, TFIIIC dapat dilihat sebagai faktor perakitan untuk penempatan faktor
inisiasi TFIIIB.
RNA
Pol III mentranskripsi gen 5S rRNA, yang merupakan satu-satunya subunit rRNA
yang ditranskripsi secara terpisah.
Seperti halnya gen-gen rRNA lainnya yang
ditranskripsi oleh RNA Pol I, gen-gen 5S rRNA tersusun secara tandem (berurutan)
di dalam suatu rumpun gen. Pada manusia terdapat suatu rumpun yang berisi
sekitar 2.000 gen. Promoter gen 5S rRNA mengandung daerah kontrol internal yang
dinamakan kotak C. Letaknya sekitar 81 hingga 99 pb ke arah hilir dari tapak
inisiasi transkripsi.
Selain
itu, terdapat juga kotak A yang berada pada posisi sekitar +50 hingga +65.
Kotak C pada promoter 5S rRNA berperan sebagai tempat pengikatan protein
spesifik, yaitu TFIIIA.TFIIIA bekerja sebagai faktor perakitan yang
memungkinkan TFIIIC berinteraksi dengan promoter 5S rRNA.
Sementara itu, kotak A akan menstabilkan
pengikatan TFIIIC sehingga faktor ini berikatan dengan DNA pada posisi yang
relatif sama dengan posisi pengikatan pada promoter tRNA. Begitu TFIIIC terikat
pada DNA, TFIIIB dapat berinteraksi dengan kompleks pengikatan tersebut dan
memungkinkan RNA Pol III untuk melakukan inisiasi transkripsi.
Banyak gen yang ditranskripsi oleh RNAs Pol
III bergantung kepada urutan hulu untuk regulasi transkripsinya.
Beberapa
promoter seperti U6 snRNA dan gen-gen RNA kecil dari virus Epstein-Barr hanya
menggunakan urutan regulator yang letaknya di sebelah hulu dari tapak inisiasi
transkripsinya.
Daerah
penyandi U6 snRNA mempunyai sebuah kotak A yang khas. Akan tetapi, urutan ini
tidak diperlukan untuk transkripsi.Daerah hulu pada U6 snRNA mengandung urutan
khas promoter RNA Pol II, yang meliputi kotak TATA pada posisi -30 hingga -23.
Promoter ini juga memiliki beberapa urutan di daerah hulu sebagai tempat
pengikatan faktor transkripsi lainnya seperti pada kebanyakan gen U RNA yang
ditranskripsi oleh RNA Pol II.
Hal ini mendukung pendapat bahwa faktor-faktor
transkripsi umum dapat mengatur gen-gen yang ditranskripsi baik oleh RNA Pol II
maupun oleh RNA Pol III.
Terminasi
transkripsi oleh RNA Pol III nampaknya hanya memerlukan pengenalan polimerase
berupa urutan nukleotida sederhana.Urutan ini terdiri atas sekelompok residu dA
yang efisiensi terminasinya dipengaruhi oleh urutan di sekitarnya.
Urutan
5’- GCAAAAGC – 3’ merupakan sinyal terminasi yang efisien untuk gen 5S rRNA
pada Xenopus borealis.
·
Transkripsi
gen kelas I
Transkripsi
gen kelas I dilakukan oleh RNA polimerase I. proses transkripsi gen kelas I
juga dimulai dengan pembentukan kompleks pra inisiasi yang dilakukan oleh RNA
polimerase I dan dua faktor transkripsi yaitu SL1 dan UBF (Upstream binding
factor).
SL1
merupakan faktor transkripsi yang mempunyai spesifisitas untuk suatu species,
artinya dapat membedakan antara promotor gen pada manusia dan promotor gen pada
hewan. Faktor SL1 diketahui berperan dalam penyusunan kompleks pra inisiasi RNA
polimerase 1. Spesifisitas SL1 terhadap suatu promotor dibantu oleh elemen
promotor utama (core promoter elemen).
Transkripsi
gen kelas I dimulai dari daerah promotor antara dan berakhir pada sisi sebelah
hulu promotor utama. Hal ini dimaksudkan untuk mengantarkan molekul RNA
polimerase I dalam jumlah besar kesisi inisiasi.
Secara rinci mekanisme inisiasi transkripsi
gen kelas I sampai saat ini belum diketahui secara jelas. Selain faktor SL1
inisiasi transkripsi gen kelas I juga memerlukan faktor transkripsi UBF. Faktor
UBF inilah yang menempel pada daerah promotor gen rRNA secara langsung dan
bukan RNA polimerase I. hasil penelitian menunjukan bahwa faktor SL1 yang
berasal dari manusia tidak berikatan langsung pada DNA sedangkan SL1 yang
berasal dari mencit dapat menempel pada promotor gen rRNA mencit sehingga
faktor faktor transkripsi SL1 yang berasal dari manusia hanya aktif terhadap
promotor manusia sedangkan SL1 mencit juga aktif pada promotor mencit.
Sebaliknya, faktor transkripsi UBF yang berasal dari manusia dapat menggantikan
fungsi UBF dari mencit dan sebaliknya.
RNA
Pol I bertanggung jawab dalam sintesis rRNA secara terus-menerus selama
interfase. Sel manusia mengandung lima rumpun (cluster) gen penyandi rRNA yang
terdiri atas sekitar 40 salinan dan terletak pada kromosom-kromosom yang
berbeda. Masing-masing gen rRNA menghasilkan transkrip 45S rRNA yang panjangnya
lebih kurang 13.000 nukleotida (nt). Transkrip ini akan terbagi menjadi sebuah
28S (5.000 nt), 18S (2.000 nt), dan 5,8S (160 nt) rRNA. Transkripsi salinan
gen-gen rRNA secara berkesinambungan diperlukan untuk mencukupi produksi rRNA
yang selanjutnya akan dikemas ke dalam ribosom.
Masing-masing rumpun gen rRNA dikenal sebagai
daerah pengatur nukleolar (nucleolar organizer region) karena nukleolus
mengandung kala (loop) DNA berukuran besar yang sesuai dengan rumpun-rumpun gen
tersebut.
Setelah sebuah sel dihasilkan dari mitosis,
sintesis rRNA akan dimulai kembali dan nukleoli yang kecil akan muncul pada
lokasi kromosomal yang ditempati oleh gen-gen rRNA. Selama sintesis rRNA
berlangsung aktif, transkrip pra-rRNA dikemas di sepanjang gen-gen rRNA dan
jika divisualisasikan menggunakan mikroskop elektron akan nampak sebagai
’struktur pohon natal’.
Di
dalam struktur ini transkrip-transkrip RNA dikemas dengan rapat di sepanjang
molekul DNA dan masing-masing muncul tegak lurus dari DNA.Transkrip yang pendek
dapat dilihat pada bagian awal gen tersebut.
Transkrip
akan makin bertambah panjang pada bagian-bagian berikutnya untuk kemudian
menghilang ketika mencapai ujung unit transkripsi.
Promoter-promoter gen pra-rRNA pada mamalia
mempunyai suatu daerah kontrol transkripsi bipartit, yang terdiri atas elemen
inti atau core element dan elemen kontrol hulu atau upstream control element
(UCE). Elemen inti meliputi tapak awal transkripsi dan terbentang dari posisi
-31 hingga +6, yang merupakan urutan esensial untuk transkripsi.
Sementara
itu, UCE mempunyai panjang sekitar 50 hingga 80 pb yang dimulai dari posisi
-100. UCE bertanggung jawab untuk peningkatan transkripsi sekitar 10 hingga 100
kali bila dibandingkan dengan laju transkripsi oleh elemen inti saja.
UCE
akan berikatan dengan suatu protein spesifik pengikat DNA, yang disebut dengan
faktor pengikatan hulu atau upstream binding factor (UBF).
Selain
dengan UCE, UBF juga berikatan dengan suatu urutan di sebelah hulu elemen
inti.Kedua urutan yang berikatan dengan UBF tersebut tidak mempunyai kesamaan
yang nyata.Sebuah molekul UBF diduga mengikat UCE, sedangkan sebuah molekul UBF
lainnya mengikat urutan yang kedua.
Selanjutnya,
kedua molekul UBF akan saling berikatan melalui interaksi protein-protein
sehingga terbentuk struktur kala (loop) pada segmen DNA di antara kedua tempat
pengikatan tersebut.
Selain
UBF, terdapat faktor lain yang esensial untuk transkripsi RNA Pol I. Faktor ini
adalah faktor selektivitas atau selectivity factor (SL1), yang akan berikatan
dengan kompleks UBF-DNA dan kemudian menstabilkannya. SL1 berinteraksi dengan
bagian hilir elemen inti yang bebas.
Pengikatan
kompleks UBF-DNA oleh SL1 memungkinkan RNA Pol I untuk memasuki kompleks
tersebut dan melakukan inisiasi transkripsi.
Saat
ini SL1 telah diketahui mengandung beberapa subunit, antara lain berupa suatu
protein yang dinamakan protein pengikat TATA atau TATA-binding protein (TBP).
TBP diperlukan untuk inisiasi ketiga RNA polimerase eukariot, dan nampaknya
merupakan faktor penting dalam transkripsi eukariot.Ketiga subunit SL1 lainnya
dikenal sebagai faktor-faktor yang berasosiasi dengan TBP atau TBPassociated
factors (TAFs), dan di antara subunit tersebut yang diperlukan untuk
transkripsi RNA Pol I dinamakan TAF1s.
Pada
Acanthamoeba, suatu eukariot sederhana, terdapat elemen kontrol tunggal di
daerah promoter gen rRNA yang terletak sekitar 12 hingga 72 pb ke arah hulu
dari titik awal transkripsi. Tempat ini akan diikat oleh faktor TIF-1, yang
homolog dengan SL1. Dengan pengikatan ini RNA Pol I akan dapat melakukan
inisiasi transkripsi. Pada waktu RNA Pol I bergerak di sepanjang molekul DNA,
faktor TIF-1 tetap terikat pada tempat semula sehingga memungkinkan terjadinya
inisiasi transkripsi oleh RNA Pol I yang lain, dan beberapa putaran transkripsi
dapat berlangsung.Oleh karena itu, mekanisme ini dapat dilihat sebagai sistem
kontrol transkripsi yang sangat sederhana. Di sisi lain, untuk vertebrata
nampaknya terdapat suatu UBF tambahan yang bertanggung jawab atas pengikatan
promoter oleh SL1 secara spesifik.
·
Terdapat
3 produk hasil transkripsi pada eukariot antara lain :
1.
RNA polimerase I (RNA Pol I) mentranskripsi
sebagian besar gen rRNA. Enzim ini terdapat di dalam nukleoli dan tidak
sensitif terhadap α-amanitin.
2.
RNA polimerase II (RNA Pol II) mentranskripsi
semua gen penyandi protein dan beberapa gen RNA nuklear kecil (snRNA). Enzim
ini terdapat di dalam nukleoplasma dan sangat sensitif terhadap α-amanitin.
3.
RNA polimerase III (RNA Pol III)
mentranskripsi gen-gen tRNA, 5S rRNA, U6 snRNA dan beberapa RNA kecil lainnya.
Enzim ini terdapat di dalam nukleoplasma dan agak sensitif terhadap α-amanitin.
·
Pemrosesan
Pasca Transkripsi
Pada prokariot proses
transkripsi dan translasi berlangsung hampir secara serentak, artinya bahwa
sebelum transkripsi selesai dilakukan translasi sudah dapat dimulai. Hal ini
dapat terjadi karena pada prokariot tidak ada hambatan struktural sel karena
semua komponen transkripsi dan translasi terletak pada ruangan sitoplasma yang
sama. Sebaliknya pada eukariot transkripsi berlangsung di dalam nucleus
sedangkan translasi berlangsung di dalam sitoplasma dengan demikian translasi
baru dapat dijalankan jika proses transkripsi sudah selesai dilakukan. Jeda
waktu semacam ini disebut fase pasca transkripsi.
Pada
fase ini terjadi beberapa proses yang unik pada eukariot antara lain
(1) pemotongan dan
penyambungan RNA (RNA spilicing),
(2) poliadenilasi (penambahan gugus poli-A
pada ujung 3’ mRNA),
(3) penambahan tudung (cap) pada ujung 5’
mRNA.
·
Pemotongan
dan Penyambungan RNA (splicing)
Gambar Proses
Splicing RNA

Transkip mRNA pada eukariot juga mengalami
pemrosesan dalam bentuk penambahan poliA (rantai AMP) pada ujung 3’ sepanjang
kurang lebih 200-250 nukleotida.
Penambahan poliA
tersebut ditambahkan pasca-transkripsi karena tidak ada bagian gen yang
mengkode rangkaian A atau T semacam ini.
Penambahan tersebut
dilakukan dengan menggunakan aktivitas enzim poli (A) polimerase yang ada di
dalam nucleus.Sebagian mRNA mengandung poliA, kecuali mRNA histon.
Penambahan poli A pada
ujung 3’ meningkatkan stabilitas mRNA sehingga mRNA mempunyai umur yang lebih
panjang dibandingkan dengan mRNA yang tidak mempunyai poliA.
Selain itu juga ada
bukti yang menunjukan bahwa keberadaan poliA meningkatkan efisiensi translasi
mRNA semacam itu.
Diketahui ada suatu
protein, yaitu poly (A)-binding protein I, yang menempel pada poliA sehingga
meningkatkan efisiensi translasi.
Bukti lain juga
menegaskan bahwa mRNA yang mempunyai poliA mempunyai kemungkinan yang lebih
tinggi untuk mengikat ribosom sehingga dapat meningkatkan efisiensi translasi
dibandingkan mRNA yang tidak mengalami poliadenilasi. Poliadenilasi dilakukan
pada precursor mRNA bahkan sebelum terjadi terminasi transkripsi.
Hal tersebut dilakukan dengan caramemotong
precursor pada bagian yang nantinya akan menjadi bagian mRNA yang matang,
kemudian dilanjutkan dengan menambahkan poliA pada ujung 3’ yang terbuka.
Bagian mRNA yang disintesis setelah selesai sisi poliadenilasi yang selanjutnya
didegradasi.
Tempat dilakukan
poliadenilasi dicirikan oleh sinyal poliadenilasi pada gen mamalia. Sinyal
tersebut terdiri dari rangkaian nukleotida AATAAA yang diikuti oleh sekitar 20
nukleotida yang kaya akan residu GT serta diikuti oleh motif yang kaya akan T.
Transkip mRNA pada tanaman dan khamir juga mengalami poliadenilasi tetapi
sinyal poliadenilasinya berbeda dari yang ada pada mamalia karena ada variasi
pada sekuens AATAAA. Pada khamir, jarang sekali ada motif AATAAA yang
ditemukan.
·
Penambahan
tudung (cap) pada ujung 5’ mRNA
Sejak tahun 1974, para
peneliti telah menemukan bahwa jasad eukariot mengalami metilasi (penambahan
gugus metil) yang sebagian besar terakumulasi pada ujung 5’ mRNA.Stuktur ini
kemudian dikenal sebagai tudung mRNA (mRNA cap).Penelitian selanjutnya yang
dilakukan oleh Yasuhiro Furuichi dan Kin-Ichiro Miura menunjukan bahwa tudung
mRNA tersebut berupa molekul 7-metilguanosin (m7G).tudung mRNA tersebut
disintesis dalam beberapa tahapan. Yang pertama, enzim RNA trifosfatase
memotong gugus fosfat pada ujung pre mRNA, kemudian enzim guanili transferase
memotong gugus fosfat pada ujung pre mRNA.
Kemudian enzim guanili
transferase menambahkan GMP (guanosin fosfat).
Selanjutnya, enzim
metil transferase melakukan metilasi tudung guanosin pada N7 dan gugus 2’-O
metil pada nukleotida ujung tudung tersebut.
Proses penambahan
tudung tersebut berlangsung pada tahapan awal transkripsi sebelum transkrip
mencapai panjang 30 nukleotida.
Tudung mRNA mempunyai
empat macam fungsi, yaitu:
(1)
melindungi mRNA dari degradasi.
(2)
meningkatkan efisiensi translasi mRNA,
(3)
meningkatkan pengangkutan mRNA dan
nucleus ke sitoplasma dan
(4)
meningkatkan efisiensi proses spilicing
mRNA. Tudung m7G berikatan dengan mRNA melalui ikatan trifosfat.
Tudung tersebut juga meningkatkan
efisiensi translasi karena ribosom dapat mengakses mRNA melalui suatu protein
yang menempel pada tudung. Dengan demikian, jika tidak ada tudung, maka protein
yang melekat pada tudung tidak akan menempel. Hal itu akhirnya akan mengurangi
kemungkinan ribosom untuk menempel dan melakukan translasi.
Dibuat oleh kelompok 4 yang beranggotakan:
Alfi Nurcahyasari (1700017086)
Nuri Dwi Astuti (1700017085)
Novilia S. (1700017090)
Komentar
Posting Komentar